Popular News [ View all Popular News ]

Latest Updates

Tampilkan postingan dengan label Kambing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kambing. Tampilkan semua postingan

Kambing Sirohi

0 komentar

Dari aspek sosial, kambing telah memberikan jaminan penghasilan bagi para petani kecil kelas bawah, dan terutama para pekerja yang tak punya lahan.

Kambing merupakan ternak berukuran sedang dan makan berbagai macam rumput, gulma, dan semak dan limbah dapur serta menghasilkan susu lebih banyak dengan biaya pakan lebih murah dibandingkan dengan sapi.

Galur kambing yang ternama seperti kambing Jamnapari, kambing Barbari, kambing Beetal, kambing Jakarana, kambing Marwari, dan kambing Benggala Hitam digunakan untuk menghasilkan susu dan daging serta meningkatkan kinerja kambing-kambing tak-unggul di India.

Galur kambing lainnya yang terkenal di India dinamakan kambing Sirohi, yang namanya berasal dari distrik Sirohi di Rajasthan.

Galur kambing Sirohi juga dikenal dengan nama lain seperti Devgarhi, Parbatsari, dan Ajmeri.

Kambing Dwi-guna
Menurut Prof. R.K. Nagda, direktur Livestock Research Station (LRS, Pusat Penelitian Ternak), Universitas Pertanian dan Teknologi Maharana Pratap, Udaipur, Rajasthan, kambing Sirohi merupakan kambing dwi-guna, yaitu kambing yang dipelihara untuk menghasilkan susu dan daging.

Menurut beliau, kambing Sirohi sangat terkenal dengan pertambahan bobot badannya dan produksi susu yang banyak meskipun dalam kondisi pemeliharaan bermutu rendah.

Kambing Sirohi tahan terhadap berbagai penyakit utama ternak kambing dan mudah menyesuaikan diri dengan kondisi iklim yang berbeda.

Tersebar Luas

Meskipun daerah asal utama kambing Sirohi terletak di perbukitan Aravalli di Rajasthan, kambing Sirohi juga tersebar luas di beberapa negara bagian India lainnya.

Menurut Prof. Nagda, warna bulu kambing Sirohi bervariasi dari coklat muda sampai coklat tua dan kadang-kadang disertai bercak-bercak coklat muda pada badannya. Telinga kambing Sirohi besar dan menggantung. Ekor kambing Sirohi kecil dan melengkung ke atas.

Kambing Sirohi jantan lebih berat dibandingkan dengan kambing Sirohi betina. Kambing Sirohi yang badannya berbentuk kerucut lebih disukai untuk produksi susu, dan kambing Sirohi yang badannya berbentuk silinder lebih disukai untuk produksi daging.

Kambing Sirohi bisa diberi makan di kandang dan bisa juga dilepas ke padang rumput. Kambing Sirohi yang dipelihara di dalam kandang sebaiknya diberi pakan sekitar 3 � 5 kg pakan hijauan setiap hari.

Selain itu, kambing Sirohi harus diberi pakan campuran konsentrat berupa barley dan channa gram ditambah 2 persen campuran mineral dan 1 persen garam dapur.

Kambing Sirohi betina biasanya mulai birahi saat berumur setahun. Perbandingan kambing Sirohi jantan dan betina untuk tujuan pembiakan adalah satu ekor kambing Sirohi jantan untuk 30 ekor kambing Sirohi betina. Kambing Sirohi betina dapat dikawinkan dua kali setahun.

Beranak Banyak
Biasanya, kambing Sirohi jantan dapat melayani 30 hingga 35 kambing Sirohi betina selama satu musim kawin.
Menurut Prof. Nagda, para peternak harus memberikan sekitar 300 gram campuran barley dan channa dhal agar melahirkan lebih banyak anak kambing Sirohi sehat dalam satu kelahiran. Ini dinamakan penggelontoran pakan bergizi tinggi (flushing).

Masa kebuntingan biasanya berlangsung sekitar 150 hari. Lima belas hari sebelum melahirkan, kambing Sirohi betina yang sedang bunting sebaiknya ditempatkan di kandang terpisah dan diberi alas jerami dan disediakan air bersih.

Apabila terjadi kesulitan dalam melahirkan anaknya, bantuan dokter hewan harus segera diberikan. Menurut Prof. Nagda, sekitar 30 � 40 persen kambing Sirohi betina melahirkan anak kembar dua atau tiga. Anak kambing Sirohi biasanya disapih setelah berumur 3 atau 4 bulan. Kambing Sirohi betina diperah dua kali sehari, dan kambing Sirohi betina yang baru pertama kali melahirkan dapat menghasilkan 2 sampai 3 liter susu per hari.

Kambing Tangguh
Meskipun kambing Sirohi ini tangguh dan tahan terhadap berbagai penyakit dan infeksi yang sering dialami ternak kambing, para peternak dianjurkan memberi obat cacing dan vaksin secara berkala kepada kambing Sirohinya untuk mencegah enterotoksaemia dan infeksi mulut dan kuku.

Rujukan:

Jamnapari: Galur Kambing Perah di India

0 komentar

Kambing Jamnapari (disebut juga kambing Jamunapari, atau terkenal dengan nama kambing Etawa di Indonesia) merupakan salah satu nenek moyang kambing Nubia Amerika. Kambing Nubia ini berasal dari perkawinan silang kambing Jamnapari dari India dan kambing Zaraibi Mesir dengan kambing asli Inggris, setelah kambing ini tiba di Inggris dibawa kapal dagang sebagai bagian dari setiap kargo. Perkawinan silang ini menghasilkan galur kambing Anglo-Nubia.

Selain menjadi nenek moyang kambing Anglo-Nubia (atau kambing Nubia), kambing Jamnapari juga merupakan nenek moyang kambing Etawa atau Peranakan Etawa (PE) di Indonesia. Kambing Jamnapari mulai masuk Indonesia pada tahun 1925 ketika pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan importasi kambing unggul ini untuk meningkatkan kinerja kambing lokal melalui perkawinan silang dengan kambing Kacang.

Kambing Jamnapari dikenal sebagai kambing perah terbaik di India. Kambing Jamnapari juga merupakan galur kambing berbadan paling tinggi dan biasanya dikenal sebagai kambing Pari di daerah asalnya karena penampilannya yang gagah. Daerah asal kambing ini dan habitat alaminya adalah daerah Chakarnagar di distrik Etawah di negara bagian Uttar Pradesh, di sepanjang delta sungai Jamuna dan Chambal, dan distrik Bhind di negara bagian Madhya Pradesh di sepanjang sungai Kwari, di sebelah timur New Dehli dan tidak jauh dari Taj Mahal yang terkenal di Agra. Kambing Jamnapari beradaptasi dengan baik dengan jurang-jurang khas di daerah ini dan tumbuhan semak dan belukarnya yang lebat. Kambing Jamnapari nampaknya telah berevolusi khusus di lingkungan ini, karena secara alami galur kambing ini tidak terdapat di daerah-daerah sekitarnya di luar daerah asalnya.

Habitat
Daerah asal kambing Jamnapari terletak di antara 26,8 derajat lintang utara dan 79,3 derajat bujur timur. Daerah Chakarnagar terletak 24 mil di sebelah tenggara kota Etawah di sepanjang sungai Jamuna di daerah seluas 34 hektar. Karena keadaan tanahnya mengalami erosi parah, permukaan tanah di daerah ini bergelombang tidak merata, membentuk ngarai-ngarai dan jurang-jurang dengan kedalaman 3 hingga 46 meter. Pada musim panas cuacanya kering dan panas dengan temperatur mencapai 66� C. Pada musim dingin, temperaturnya turun hingga 14 sampai 16� C.

Curah hujan per tahun sekitar 456 cm3, yang tersebar selama musim hujan. Ngarai dan jurang tertutup semak lebat dan tumbuhan pohon tahan kering, terutama mesquite (Prosopis juliflora), plum (Ziziphus jujuba), babul (Acacia nilotica), conkra (Prosopis spicigera), dan hingota (Balanites aegyptica). Tanaman pepadian utama adalah arhar yang eksotis (Cassia cacjam), gram (Cassia erientinum) dan bajara (Pennisetum aegypticum), dan tergantung pada hujan karena tidak ada sarana irigasi di daerah ini.

Anatomi
Kambing Jamnapari berbulu putih dan pendek kecuali di bagian paha dan kaki belakangnya yang berbulu panjang. Ciri utama galur kambing Jamnapari adalah hidungnya yang sangat cembung dan telinganya yang panjang menggantung. Lehernya panjang, berotot dan tegak. Pinggangnya kuat tapi biasanya melengkung; ekornya pendek dan biasanya melengkung ke atas.

Panjang telinga sekitar 20 cm pada anak kambing Jamnapari berumur tiga sampai enam bulan, yang tumbuh hingga 31 cm pada kambing Jamnapari dewasa. Tanduk mengarah ke belakang dan panjangnya sekitar 23 cm pada kambing Jamnapari dewasa. Ambingnya cukup besar dibandingkan dengan kambing �perah� Asia lainnya, tapi menggantung. Putingnya mudah diperah dengan tangan dan panjangnya 15 cm.

Meskipun panjang telinga kambing Jamnapari dewasa sekitar 31 cm, wajah dan mulutnya lebih pendek sekitar 5 hingga 8 cm daripada telinganya, sehingga menyebabkan perbandingan kritis dan merugikan 1:4 antara panjang telinga dengan panjang wajah. Hal ini menyebabkan telinga kambing Jamnapari menyentuh tanah atau menghambat mulutnya saat berusaha merumput atau makan. Selain itu, matanya juga bisa tertutup oleh telinganya yang panjang. Karena itu, kambing Jamnapari berevolusi sehingga lebih suka mencari makan dengan meramban semak-semak, dedaunan pohon dan pucuk rerumputan daripada merumput di tanah, yang membuat galur kambing ini rentan terhadap perubahan lingkungan.

Kebiasaan Makan
Pada musim dingin, kambing Jamnapari menggunakan sekitar 94% waktunya untuk meramban dengan lahap, tapi hanya memanfaatkan 55% waktunya untuk meramban pada musim panas dan kemudian meramban perlahan. Kalau tidak ada tumbuhan atas, yang menjadi pilihan utama kambing ini, kambing Jamnapari mencari tumbuhan tengah yang lebih disukai daripada tumbuhan bawah.

Hidungnya yang sangat cembung membuat rahang dan bibir atas kebanyakan kambing Jamnapari lebih pendek daripada rahang bawah, keadaan yang dinamakan �rahang atas pendek� atau brakignatia, yang merupakan ciri gen resesif. Ini nampaknya merupakan faktor penyebab kebiasaan kambing Jamnapari yang lebih suka meramban daripada merumput dibandingkan dengan hewan ruminansia lain karena bibir dan rahang bawah kambing Jamnapari lebih dulu menyentuh tanah tanpa bibir dan rahang atas yang membuat kambing Jamnapari kesulitan untuk menggigit dan merenggut rumput. Akibat terjadinya penggundulan hutan dan reklamasi tanah, daerah asal mula kambing Jamnapari dengan tumbuhan semaknya yang lebat ini sekarang sudah jauh berubah sehingga kambing Jamnapari kesulitan meramban, dan dengan demikian mengancam keberadaan galur kambing Jamnapari.

Manajemen Perkandangan
Kambing Jamnapari biasanya dipelihara dengan sistem manajamen ekstensif, yaitu kambing mencari pakan hijauan selama tujuh hingga dua belas jam di kawasan jeram Chakarnagar pada musim yang berbeda. Para peternak kambing Jamnapari lebih suka memelihara kambing dalam jumlah kecil karena keterbatasan lahan peternakan mereka. Jumlah populasi kambing Jamnapari maksimal 16 ekor kambing Jamnapari dewasa dengan jumlah anak yang bervariasi. Sebagian kambing Jamnapari dewasa dijual sewaktu-waktu. Umumnya, peternak membuat kandang untuk kambing Jamnapari berupa kandang kecil sederhana berukuran sekitar 4 x 2,5 meter persegi dengan struktur tiang kayu, atap daun lalang, dan dinding kayu semak berduri.

Kadang-kadang struktur kandang ini berupa tanah liat atau bata tergantung status ekonomi peternaknya, dan struktur kandang ini diubah setiap musim agar sesuai dengan cuaca saat itu. Kandang kambing Jamnapari ini dinamakan �bangla�, yang dikelilingi pagar berupa tonggak dan batang kayu serta kayu semak berduri. Kalau sedang tidak mencari pakan hijauan, kambing Jamnapari ditempatkan di kandang terbuka tanpa dipaut atau dipaut pada musim panas, dan peternak mengawasi kambing mereka agar tidak diserang binatang liar.

Pada musim hujan, kambing Jamnapari dipaut di dalam kandang tertutup. Pada musim dingin, kandang kambing Jamnapari ditutup rapat dengan kayu-kayu semak berduri dan lembaran-lembaran rumput untuk melindungi kambing Jamnapari dari udara yang sangat dingin. Peternak juga menghidupkan api agar kandang tetap hangat dan untuk mengusir binatang liar. Anak-anak kambing Jamnapari dikandangkan terpisah dari kambing Jamnapari dewasa. Kambing Jamnapari pejantan ditempatkan di kandang bata dengan pemeliharaan khusus dan biasanya dipaut.

Manajemen Pakan
Kambing Jamnapari mencari pakan hijauan di kawasan jeram Chakarnagar pada siang hari selama 7-12 jam, tergantung musim. Campuran konsentrat dan biji-bijian diberikan di pagi hari sebelum kambing Jamnapari dikeluarkan untuk meramban. Kambing Jamnapari betina yang sedang bunting dan kambing Jamnapari yang dipelihara untuk tujuan kontes diberi pakan khusus yang terdiri dari bajra (Pennisetum americanum), barley, jowar (Sorghum bicolor) dan gandum utuh atau gandum giling. Anak kambing Jamnapari dibiarkan menyusu pada induknya sampai umum tiga bulan. Sebelum menyusui atau diperah, kambing Jamnapari betina diberi bajra rebus atau roti masak. Selain campuran konsentrat, kulit bajra basah atau kering, rajma (sejenis leguminosa) mentah, kairy (Prosopis cinerarea) dan dedaunan pohon juga diberikan kepada kambing Jamnapari.

Pertumbuhan Badan
Kambing Jamnapari betina berbobot sekitar 3 kg saat lahir, 14 kg saat berusia enam bulan, dan 30 kg saat berusia 12 bulan. Anak kambing Jamnapari jantan bobotnya jauh lebih berat. Tingkat pertumbuhannya rata-rata sekitar 1 kg per minggu sampai usia tiga bulan, dan sekitar 1 kg per 10 hari setelah itu. Kambing Jamnapari jantan dapat mencapai bobot sekitar 36 kg pada usia 12 bulan dengan sistem pemberian pakan yang baik.

Produksi Susu
Catatan produksi susu selama 30, 60, 90, dan 120 hari laktasi dilaporkan rata-rata 32, 68, 91, dan 123 kg susu. Kambing Jamnapari dapat menghasilkan 3,6 kg susu per hari dan produksi susu rata-rata per hari 1 kg per hari. Produksi susu terus meningkat sampai akhir jangka waktu laktasi dua bulan dan kemudian mulai menurun selama jangka waktu laktasi rata-rata 260 hari.

Kambing Jamnapari betina beranak kembar biasanya menghasilkan lebih banyak susu daripada kambing Jamnapari betina beranak tunggal. Penelitian komposisi susu menyimpulkan kandungan protein total rata-rata 2,9% (dengan kisaran 2,4 � 3,2) pada awal masa laktasi, 3,2% (dengan kisaran 2,3 � 3,9) pada pertengahan masa laktasi dan 3,8% (dengan kisaran 3,1 � 4,3) pada akhir masa laktasi (Singh dan Singh, 1980a), dengan persentase kasein rata-rata 82% pada awal masa laktasi, 79% pada pertengahan masa laktasi, dan 77% pada akhir masa laktasi. Kasein susu ini mengandung rata-rata 26% alfa-kasein, 61% beta-kasein dan 13% gama-kasein (Singh dan Singh 1980b).

Reproduksi
Tingkat kebuntingan kambing Jamnapari relatif tinggi, yaitu 88%, jumlah rata-rata anak sekelahiran 1,6 ekor, kemungkinan kelahiran kembar 52%, dan kelahiran kembar tiga dan kembar empat sering terjadi. Usia kebuntingan pertama kambing Jamnapari sekitar 18 bulan, melahirkan pertama pada usia 23 bulan, dan jarak waktu antar-kelahiran sekitar 11 bulan.

Kriteria Seleksi Pejantan
Pemilihan kambing Jamnapari jantan untuk tujuan pembiakan oleh peternak didasarkan pada kriteria tertentu yang sangat ketat dan menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka secara cermat. Silsilah kambing Jamnapari jantan merupakan faktor pertimbangan penting sebelum pembelian dilakukan. Warna badan kambing Jamnapari jantan harus putih sempurna dan tidak boleh ada toleransi dalam hal ini. Kambing Jamnapari jantan harus keturunan dari kambing Jamnapari betina dengan produksi susu tinggi dan sudah tua. Kambing Jamnapari jantan keturunan kambing Jamnapari betina yang baru sekali atau dua kali melahirkan tidak akan dipertimbangkan untuk dijadikan pejantan.

Tanduk kambing Jamnapari jantan tidak boleh lurus tapi melengkung ke atas; kambing Jamnapari jantan yang tanduknya melengkung ke bawah tidak akan dijadikan pejantan. Testes kambing Jamnapari jantan harus bulat dan kecil. Bulu badan kambing Jamnapari jantan harus pendek dan mengkilap, tapi bulu pada bagiah paha dan kaki belakang harus panjang. Tidak boleh ada warna hitam pada hidung atau kepala. Wajah kambing Jamnapari jantan harus jelas cembung dan berhidung Romawi (mancung). Kambing Jamnapari jantan harus berjanggut.

Permasalahan
Para peternak menghadapi banyak masalah dalam memelihara kambing Jamnapari. Pertumbuhan tumbuhan semak bilati babool (Prosopis juliflora) yang tidak seimbang sebagai sumber pakan rambanan mungkin berperan menyebabkan penurunan produksi kambing Jamnapari hingga 50%. Masalah lainnya adalah kurangnya bantuan petugas peternakan, jarangnya pembelian kambing baru, gangguan oleh polisi dan departemen kehutanan, kurangnya pekerja, serangan binatang liar, dan kurangnya pakan hijauan pada musim tertentu.

Rujukan:
Dairy Goat Journal (Jurnal Kambing Perah)
http://www.dairygoatjournal.com/issues/82/82-3/PK_Rout.html

Wageningen Universiteit, The Netherland (Universitas Wageningen, Belanda)
http://library.wur.nl/wda/dissertations/dis3931.pdf

Kambing Boer Memang Kambing Pedaging Unggul

0 komentar
Foto ini memperlihatkan kambing Boer jantan galur murni (fullblood). Dari penampilan fisiknya memang jelas terlihat keunggulan kambing pedaging yang sangat terkenal di dunia ini.

Saya yakin, rekan-rekan peternak Indonesia sangat bersemangat mendapatkan kambing pedaging terunggul di dunia ini.

Kalau para peternak kambing Indonesia bisa memelihara kambing Boer sudah terbayang berapa keuntungan yang dapat diperoleh dari hasil penjualannya nanti. Kalau dihargai menurut bobot hidup saja, jelas harganya sangat menguntungkan karena bobot kambing Boer jantan bisa mencapai lebih dari 100 kg.

Luar biasa, bukan?

Sayangnya, para peternak Indonesia kesulitan mendapatkan trah kambing pedaging unggul ini karena memang masih sangat langka perusahaan Indonesia yang mengimpor kambing Boer dari luar negeri dan menjualnya sebagai bibit bagi para peternak maupun calon peternak kambing.

Di negara tetangga, Malaysia, peternakan kambing Boer sudah berkembang pesat. Kalau peternakan kambing Boer bisa berkembang pesat di Malaysia, pasti peternakan kambing Boer juga bisa berkembang lebih pesat di Indonesia mengingat iklim kedua negara yang sama namun lahan di negara kita sangat jauh lebih luas dan subur.

Salam Peternak Kambing

Hipyan

Gambaran Umum Kambing Sabana

0 komentar
Kambing Boer berwarna kombinasi merah (kepala sampai leher) dan putih (badan), kambing Kalahari berwarna merah total, dan kambing Sabana berwarna putih sempurna. Kalau dilihat penampilan fisiknya, ketiga jenis kambing ini nampaknya sama saja sehingga orang bisa mengatakan ketiganya adalah kambing Boer - kambing Boer belang, kambing Boer merah, dan kambing Boer putih.

Namun demikian, apakah ketiga jenis kambing ini memang termasuk dalam satu trah yang sama ataukah ketiganya merupakan tiga trah kambing yang berbeda?

Ikuti terus perkembangan tulisan ini dan tulisan sebelumnya.

Gambaran Umum Kambing Kalahari

0 komentar
Kecuali warna bulunya, penampilan kambing Kalahari sangat mirip dengan kambing pedaging unggul lainnya, yaitu kambing Boer.

Apakah kambing Kalahari sama dengan kambing Boer, ataukah keduanya merupakan trah kambing pedaging unggul yang berbeda?

Uraian lengkap mengenai gambaran umum kambing pedaging unggul asal Afrika Selatan ini akan disajikan nanti.

Rujukan:
http://pbramunia.blogspot.com/

Gambaran Umum Kambing Anglo Nubia

0 komentar
Kambing Anglo Nubia merupakan kambing dwi-fungsi - bisa dijadikan kambing pedaging dan bisa juga dijadikan kambing perah. Kalau diperhatikan, kambing Anglo Nubia mirip dengan kambing Etawa - keduanya sama-sama tinggi dan panjang serta bermuka cembung dan telinga panjang menggantung. Namun demikian, berbeda dengan kambing Etawa yang berbadan ramping, kambing Anglo Nubia memperlihatkan badan yang padat berisi.

Tunggu kelanjutannya.

Klasifikasi Kambing Boer

2 komentar
Di luar negeri, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat, sistem pencatatan silsilah kambing Boernya sudah sangat rapi. Namun demikian, masih ada juga peternak luar negeri yang belum benar-benar memahami istilah-istilah klasifikasi kambing Boer seperti galur murni bersertifikat/terdaftar (registered fullblood), galur murni tak bersertifikat/terdaftar (unregistered fullblood) atau komersial, galur setara murni (purebred atau F4/F5 ke atas), galur kelas A (F3), galur kelas B (F2), dan galur kelas C (F1).

Itu di kalangan peternak luar negeri yang sudah rapi sistem pencatatan silsilah kambingnya, apalagi kita peternak di Indonesia yang belum ada atau mungkin baru sedikit sekali yang melakukan pencatatan silsilah kambingnya. Sebagian besar peternak Indonesia mungkin belum paham istilah kambing Boer fullblood, komersial, purebred, kelas A atau F3, kelas B atau F2, dan kelas C atau F1.

Secara umum, kambing Boer diklasifikasikan menjadi tiga: kambing Boer galur murni (fullblood Boer goat), kambing Boer setara murni (purebred Boer goat), dan kambing peranakan atau silangan Boer (percentage Boer atau Boer cross).

Kambing Boer galur murni selanjutnya terbagi dua: kambing Boer galur murni bersertifikat atau terdaftar (registered fullblood) dan kambing Boer galur murni tak bersertifikat atau tak terdaftar (unregistered fulldblood).

Kambing Boer galur murni bersertifikat atau terdaftar adalah kambing Boer yang terdaftar di suatu himpunan peternak kambing Boer dan dilengkapi sertifikat yang menegaskan babwa kambing Boer tersebut berasal dari kambing Boer yang diimpor dari Afrika Selatan. Sertifikat ini menyebutkan silsilah induk kambing Boer jantan dan betina, tanggal lahir, jumlah anak saat kelahiran, dan informasi penting lainnya yang diperlukan untuk manajemen ternak. Kambing Boer galur murni bersertifikat atau terdaftar memenuhi spesifikasi standar kambing Boer galur murni yang ditetapkan himpunan peternak kambing Boer.

Kambing Boer galur murni tak bersertifikat atau tak terdaftar adalah kambing Boer galur murni yang tidak memenuhi syarat untuk didaftarkan di himpunan peternak kambing Boer karena sebab estetis seperti bercak warna coklat pada badan atau bercak warna putih pada telinga. Namun demikian, mutu produksi dagingnya sama dengan kambing Boer galur murni terdaftar. Kambing Boer golongan ini sering juga disebut kambing Boer komersial.

Kambing Boer setara murni (purebred Boer goat) adalah kambing Boer jantan F5 atau kambing Boer betina F4 ke atas. Kambing Boer F5 adalah kambing dengan kadar darah kambing Boer 96,88%, sedangkan kambing Boer F4 adalah kambing dengan kadar darah kambing Boer 93,75%. Kambing Boer F5 adalah kambing yang dihasilkan dari perkawinan antara kambing Boer F4 betina dengan kambing Boer jantan galur murni. Kambing Boer F4 adalah kambing yang dihasilkan dari perkawinan antara kambing Boer F3 betina dengan kambing Boer jantan galur murni.

Kambing peranakan atau silangan Boer terbagi menjadi tiga kelas. Kambing Boer kelas A atau F3 adalah kambing dengan kadar darah kambing Boer 87,5%. Kambing Boer F3 adalah kambing hasil perkawinan antara kambing Boer F2 betina dengan kambing Boer jantan galur murni. Kambing Boer kelas B atau F2 adalah kambing dengan kadar darah kambing Boer 75%. Kambing Boer F2 adalah kambing hasil perkawinan antara kambing Boer F1 betina dengan kambing Boer jantan galur murni. Kambing Boer kelas C atau F1 adalah kambing dengan kadar darah kambing Boer 50%. Kambing Boer F1 adalah kambing hasil perkawinan silang antara kambing betina galur lain, seperti kambing Kacang atau kambing Etawa, dengan kambing Boer jantan galur murni.

Penerjemah Inggris-Indonesia:
Hipyan Nopri

Sumber:
http://www.britishboergoatsociety.co.uk/
http://www.hles.com.au/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=48

Sejarah Kambing Boer

0 komentar
Asal mula kambing Boer tidak jelas dan kemungkinan besar berasal dari nenek moyang kambing yang dipelihara oleh suku Namaqua Hottentot dan suku-suku masyarakat Bantu Selatan yang hidup berpindah-pindah (Barrow, 1801; Epstein, 1971; Mason, 1981; Campbell, 1984). Pengaruh lainnya kemungkinan besar berasal dari India (Pegler, 1886) dan Eropa (Schreiner, 1898) juga memberikan pengaruh terhadap nenek moyang kambing ini. Adanya kambing Boer yang tidak bertanduk menunjukkan kemungkinan pengaruh kambing perah Eropa (Anonim, 1960). Kelihatannya kambing Boer memiliki gen dari jenis-jenis kambing ini, terutama berdasarkan kebiasaan hidup berpindah dan berdagang masyarakat penghuni awal Afrika Selatan.

Bersambung

Spesifikasi Standar Kambing Boer

1 komentar
Perhimpunan Peternak Kambing Boer Amerika (ABGA, American Boer Goat Association) telah menetapkan spesifikasi standar kambing Boer murni. Spesifikasi standar tersebut adalah sebagai berikut:

Kepala

Kepala besar dan kokoh dengan mata coklat dan penampilan yang gagah. Hidung dengan lengkung yang bagus, lubang hidung lebar, dan bentuk mulut yang bagus dengan kedua rahang berhadapan rapi. Rahang atas maupun rahang bawah tidak ada yang menonjol ke depan sejak lahir sampai umur 24 bulan. Setelah umur 24 bulan, tonjolan rahang bawah tidak lebih dari � inci. Rahang atas dan bawah yang saling berhadapan pas lebih bagus. Gigi-gigi tumbuh dengan posisi berurutan dan rapi. Dahi harus menonjol dan membentuk lengkung simetris yang menghubungkan hidung dan tanduk. Kedua tanduk berwarna gelap, bundar, kokoh, panjang sedang, terletak tidak begitu berjauhan dan melengkung bertahap ke belakang sebelum membelok simetris keluar. Kedua telinga terjuntai lemas ke bawah dengan panjang sedang.
Penyimpangan: Dahi cembung, tanduk lurus, rahang terlalu runcing, rahang atas atau rahang bawah terlalu menonjol ke depan.
Diskualifikasi: Mata biru, telinga berlipat memanjang, telinga pendek, rahang atas menonjol ke depan atau rahang bawah menonjol ke depan lebih dari � inci.

Leher dan Badan Bagian Depan
Panjang leher sedang dan sebanding dengan panjang badan. Badan bagian depan padat, berotot, dan ruas kaki depan terhubung dengan baik dan berpadu mulus dengan badan. Dada lebar. Bahu padat berisi, sangat serasi dengan bagian badan lainnya serta berpadu mulus dan terhubung dengan gumba. Gumba lebar, bundar dan tidak tajam. Kedua kaki depan kokoh, kedudukan pas dan sebanding dengan kedalaman badan. Sendi pasterna kokoh dan kuku berbentuk normal dan segelap mungkin.
Penyimpangan: Leher terlalu pendek atau terlalu kecil; bahu terlalu goyah dan terdapat cacat atau kelainan struktural pada kaki depan, otot, tulang, sendi, atau kuku yang meliputi tapi tidak terbatas pada lutut goyah, kaki bengkok, kuku bengkok ke luar atau ke dalam, kuku renggang, lutut kaku, kaki cekung, pasterna lurus atau lemah.

Badan
Badan padat berisi: panjang, dalam dan lebar. Rusuk memgembang. Pinggang berotot, lebar dan panjang. Garis punggung relatif lurus dan kokoh dan bahu bundar dengan otot padat berisi dari bahu sampai pinggul.
Penyimpangan: Badan cekung atau punggung melengkung; dada terlalu sempit atau dangkal atau rata; bahu lemah; punggung dan pinggang kurang berotot, lingkar dada pendek.

Badan Bagian Belakang
Punggung belakang lebar, panjang dan bulat. Pinggul dan paha berotot dan bulat. Pangkal ekor berada di tengah dan lurus. Bagian ekor lainnya melengkung ke atas atau ke samping. Kaki kokoh dan membentuk poros lurus dari pinggul (tulang duduk) melalui sendi kaki belakang, sendi kuku, dan pasterna. Kuku berbentuk normal dan segelap mungkin.
Penyimpangan: Pasterna lemah, pasterna lurus, punggung bagian belakang terlalu pipih, sendi kaki belakang terlalu bengkok, sendi kaki kedua kaki belakang terlalu berjauhan, sendi kaki belakang terlalu lurus.
Diskualifikasi: Ekor miring

Kulit dan Bulu

Kulit longgar dan lentur. Kelopak mata dan bagian lainnya yang tidak berbulu berpigmen. Bagian tak berbulu di bawah ekor minimal 75% berpigmen: berpigmen 100% lebih disukai. Bulu pendek mengkilap sangat disukai. Sedikit bulu halus dapat diterima selama musim dingin, terutama di daerah berhawa dingin.
Penyimpangan: Bulu terlalu panjang atau terlalu kasar.
Diskualifikasi: Pigmentasi kulit tidak memadai.

Organ Reproduksi Kambing Boer Betina
Kambing Boer betina memiliki ambing berbentuk normal yang menempel sempurna dengan jumlah puting fungsional masing-masing tidak lebih dari dua di kiri dan di kanan. Puting bercabang berupa dua puting dan lubang terpisah di mana minimal 50% dari badan puting terpisah masih dapat ditolerir tapi puting tak bercabang lebih disukai. Yang paling penting adalah ambing terletak sedemikian rupa sehingga anak kambing dapat menyusu tanpa bantuan. Kambing betina yang telah melahirkan atau yang sedang bunting harus sudah melahirkan atau bunting pada umur 24 bulan.
Penyimpangan: Ketidaknormalan atau kelainan ambing dan puting mencakup tapi tidak terbatas pada puting terlalu besar atau bulat dan ambing menggantung.
Diskualifikasi: Puting berdempet, puting bengkok atau kambing betina belum pernah melahirkan atau memperlihatkan tanda-tanda kebuntingan pada umur 24 bulan.

Organ Reproduksi Kambing Boer Jantan
Kambing Boer jantan memiliki dua testis besar berbentuk normal, fungsional, dan berukuran sama pada satu skrotum dengan belahan tidak lebih dari 2 inci pada ujung skrotum.
Diskualifikasi: Testis tunggal. Testis terlalu kecil. Testis tidak normal atau sakit; belahan skrotum terlalu panjang.

Kolorasi atau Pola Warna
Kambing Boer umumnya berbulu putih pada badan dan berbulu merah pada bagian kepala. Namun demikian, tidak ada kolorasi atau pola warna bulu yang lebih disukai.

Referensi:
http://www.abga.org/page.php?pageid=8

Kambing Boerawa

0 komentar
Sebagaimana tersirat dari namanya, kambing Boerawa merupakan kambing hasil perkawinan silang antara kambing Boer jantan dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa betina. Perpaduan antara karakteristik kambing Boer yang badannya montok, besar, dan panjang namun berkaki pendek, dan karakteristik kambing Etawa atau Peranakan Etawa yang badannya langsing, tinggi, dan panjang, menghasilkan kambing Boerawa yang badannya montok, besar, panjang, dan tinggi.

Bersambung

Perbedaan Kambing dan Domba

4 komentar
Apa perbedaan kambing dan domba? Sebagai orang awam, kita biasanya dengan cepat mengemukakan dua perbedaan utama antara kambing dan domba. Perbedaan utama antara kambing dan domba adalah pada bulu dan tanduknya. Memang, dua perbedaan inilah yang paling mudah dikenali dengan pengamatan langsung. Bulu kambing lurus, sedangkan bulu domba keriting. Tanduk kambing lurus atau agak melengkung ke belakang, sementara tanduk domba melengkung ke belakang dan berpilin.

Namun demikian, dari kajian yang lebih bersifat ilmiah, kambing dan domba tidak hanya berbeda dalam dua aspek saja. Secara fisik, daging kambing dan domba sama saja. Karena itu, orang awam biasanya tidak tahu mana daging kambing dan mana daging domba. Sebenarnya, daging kambing berwarna lebih merah dan aromanya lebih tajam daripada daging domba. Daging kambing lebih enak dan gurih daripada daging domba berkat perbandingan antara protein dan lemak yang tinggi, yaitu 1 banding 8. Bandingkan dengan daging sapi yang hanya 1 banding 3. Lemak daging kambing juga lebih keras dan putih dibandingkan dengan lemak daging domba.

Domba juga lebih suka bergerombol dibandingkan dengan kambing. Domba biasanya merumput pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, kambing merumput sepanjang hari. Selanjutnya, siklus birahi domba 16 sampai 17 hari, sedangkan kambing 19 sampai 21 hari. Lama birahi domba 30 jam, sementara kambing 24 sampai 36 jam. Birahi pertama domba terjadi pada umur 8 sampai 10 bulan, sedangkan kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Perkawinan pertama domba terjadi pada umur 18 bulan, sementara kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Kalau masa bunting domba berlangsung selama 141 sampai 159 hari, masa bunting kambing berlangsung selama 147 hari. Yang terakhir, kadar lemak jenuh atau lemak yang merusak kesehatan pada daging kambing lebih rendah daripada kadar lemak jenuh daging domba. Mungkin hal inilah yang membuat harga domba lebih murah daripada harga kambing.

Sistem Peternakan Kambing

1 komentar
Berdasarkan cara peternakannya, kambing dapat dipelihara dengan sistem ekstensif, semi-intensif, atau intensif. Pada dasarnya, ketiga cara ini boleh dilakukan oleh peternak. Namun demikian, kalau peternakan kambing tersebut dijadikan sebagai mata pencarian, sistem intensif lebih cocok diterapkan. Sebaliknya, apabila peternakan kambing tersebut hanya dijadikan sebagai usaha sambilan, sistem semi-intensif atau ekstensif sudah cukup memadai. Tentu saja, keberhasilan dari penerapan ketiga sistem peternakan tersebut tergantung pada kesungguhan dan perhatian peternak terhadap kambing peliharaannya. Kalau kambingnya dipelihara dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian, insyaallah peternakan kambing tersebut akan berhasil.

Dalam sistem peternakan ekstensif boleh dikatakan peternak tidak melakukan apa-apa terhadap kambing ternaknya. Kambing yang diternakkan dilepas bebas begitu saja dan dibiarkan mencari makan sendiri di padang rumput atau tempat-tempat lainnya yang banyak sumber pakannya. Peternak juga tidak membuat kandang sebagai tempat berlindung bagi ternaknya. Ketika menjelang malam, kambing-kambing pulang dan beristirahat di pekarangan rumah peternak atau tidur di emperan rumah kalau hari hujan. Perkawinan dan proses kelahiran kambing berlangsung secara alami tanpa campur tangan peternak.

Peternakan kambing dengan sistem semi-intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak kambing dengan penggembalaan yang dilakukan secara teratur. Selain itu, peternak juga membuat kandang sebagai tempat berlindung dan tempat tidur kambingnya pada malam hari. Dalam sistem ini peternak sudah mulai memperhatikan tanda-tanda birahi dan melahirkan kambing betinanya. Sekitar jam sembilan pagi sampai jam empat atau jam lima sore kambing dibawa ke padang rumput untuk digembalakan. Dengan demikian, masa penggembalaan berlangsung sekitar delapan jam setiap hari kalau cuaca cerah. Kambing dilepas dari kandang sekitar jam sembilan pada saat embun sudah mengering dari rerumputan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kembung akibat kambing memakan rerumputan yang masih basah. Selain rerumputan, kambing juga mulai diberi makanan tambahan sebagai penguat seperti dedak padi, ampas tahu, ubi jalar, ubi kayu serta daun-daunan seperti daun lamtoro atau petai cina, daun nangka, atau daun mangga. Garam mineral dan gula merah juga diberikan sebagai campuran pada air minum kambing atau bisa juga dicampur dengan rumput atau pakan penguat.

Penerapan sistem intensif dalam peternakan kambing menuntut perhatian penuh peternak karena kambing sepenuhnya terkurung di dalam kadang. Di dalam kandang kambing dipisahkan menurut jenis kelaminnya. Dengan kata lain, kambing jantan dan kambing betina dipisahkan. Kambing yang masih kecil dan kambing dewasa juga dipisahkan. Dalam hal ini peternak harus melakukan kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari meliputi: 1) pembersihan kandang, 2) pengumpulan tahi dan kencing kambing, dan 3) penyediaan pakan hijauan, pakan tambahan, dan air minum. Kegiatan insidental meliputi: 1) pemotongan kuku kambing, 2) kastrasi atau pengebirian, 3) pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat, 4) pemberian tanda pengenal, 5) pemotongan tanduk, dan 6) vaksinasi.

Meskipun demikian, peternak dapat melakukan improvisasi dalam penerapan sistem peternakan kambingnya. Misalnya, beberapa kegiatan yang biasa dilakukan dalam sistem peternakan intensif seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, dan vaksinasi bisa saja dilakukan dalam peternakan yang menerapkan sistem semi-intensif. Saya sendiri menerapkan sistem semi-intensif namun juga melaksanakan beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan dalam sistem peternakan intensif seperti pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, vaksinasi, dan pemberian pakan tambahan serta daun-daunan. Banyak peternak berkesimpulan bahwa kambing yang digembalakan akan cenderung lebih gemuk dan sehat. Mungkin mirip juga dengan manusia - kalau jarang bergerak dan berolah raga badan jadi kurang sehat dan bugar.:)

Rujukan:
Mulyono, Subangkit & B. Sarwono. 2008. Penggemukan Kambing Potong. Depok: Penebar Swadaya.

Kambing Boerawa dan Kambing Boerka: Alternatif Kambing Boer yang Masih Sangat Mahal

3 komentar
Para peternak dan pakar peternakan sepakat menyimpulkan bahwa kambing tipe pedaging sejati adalah kambing Boer. Kambing Boer memiliki badan yang bulat montok, panjang, dalam, dan lebar. Selain itu, kadar lemak jahat atau lemak jenuh daging kambing Boer juga paling rendah dibandingkan dengan daging hewan ternak lainnya. Menurut data Asosiasi Kambing Boer Amerika (http://www.abga.org/nutritional.php), kadar lemak jenuh daging kambing Boer hanya 0,79 gr, daging ayam 1,1 gr, daging sapi 6,8 gr, daging domba 7,3 gr, dan daging babi 8,3 gr. Singkatnya, daging kambing Boer sangat empuk, enak, dan sehat.

Sayangnya, harga kambing Boer di Indonesia saat ini masih sangat jauh di atas daya beli peternak Indonesia. Menurut informasi dari salah satu perusahaan peternakan di Lampung, harga kambing Boer jantan dengan tinggi 55 cm dan berat 50 kg adalah Rp8 - Rp20 juta per ekor; kambing Boer betina dengan tinggi 55 cm dan berat 35 kg Rp6 - Rp15 juta per ekor. Harga yang luar biasa mahal. Dengan uang enam jutaan rupiah, seorang peternak di Padang sudah bisa membeli seekor bakalan sapi Simental umur enam bulan yang diantar langsung ke lokasi.

Walaupun begitu, jangan bersedih dulu para peternak maupun calon peternak Indonesia. Sebagai pereda rasa kecewa terhadap harga kambing Boer yang overdosis tsb, kita dapat memelihara kambing Boerawa dan/atau kambing Boerka. Kambing Boerawa adalah kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa betina. Kambing Boerka adalah kambing hasil perkawinan silang kambing Boer jantan dan kambing Kacang betina.

Menurut para pakar peternakan, kambing Boerawa dan kambing Boerka mewarisi semua karakteristik unggul kambing Boer. Tentu saja, persentase keunggulan karakteristik tersebut tidak sama dengan kambing kambing Boer murni. Namun demikian, karakteristik kedua kambing hasil persilangan ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan karakteristik kambing induknya.

Saya sendiri belum pernah melihat langsung kambing Boerawa. Walaupun begitu, saya pernah melihat langsung kambing Boerka jantan di peternakan tempat saya membeli bibit kambing tempo hari. Saya dan teman saya terkagum-kagum melihatnya. Kambing Boerka jantan yang kami lihat bertanduk terentang panjang dan badan yang tinggi, besar, dan panjang.

Sayang, harganya Rp13 juta seekor. Harga yang terlalu mahal bila dibandingkan dengan informasi yang saya dapat dari sebuah perusahaan peternakan di Lampung. Menurut manajer perusahaan tersebut, kambing Boerka jantan yang mereka jual berharga Rp2,5 sampai Rp6 juta per ekor dengan tinggi badan minimal 55 cm dan berat badan minimal 30 kg; kambing Boerka betina Rp1,5 sampai Rp3 juta seekor dengan tinggi badan minimal 55 cm dan berat badan 25 kg. Harga kambing Boerawa sama dengan harga kambing Boerka. Memang, petugas di peternakan tersebut mengatakan kambing yang kami lihat itu kambing Boer, padahal saya sudah tahu karakteristik kambing Boer dari Internet.

Sehubungan dengan pengalaman saya di atas, saya menyarankan agar Anda yang baru mau membuka usaha peternakan berusaha mendapatkan dulu informasi selengkap-lengkapnya mengenai harga maupun karakteristik kambing yang akan diternakkan supaya tidak tertipu oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Karena modal sangat terbatas, akhirnya saya mulai usaha peternakan skala rumah tangga saya dengan membeli seekor kambing jantan dan empat ekor kambing betina Peranakan Etawa. Kalau sudah dapat modal yang cukup memadai, saya akan membeli paling tidak sepasang kambing Boerawa dan/atau kambing Boerka. Kalau modal sudah bertambah lagi, baru beli kambing Boer murni.

Meskipun demikian, saya juga berencana menambah koleksi usaha peternakan saya dengan kambing Kacang supaya tersedia pilihan yang cukup lengkap bagi calon pembeli nanti. Kalau semua keinginan ini terwujud, di peternakan saya nanti akan tersedia enam jenis kambing - Kacang, Peranakan Etawa, Etawa, Boerawa, Boerka, dan Boer.

Kambing Unggul

5 komentar
Kambing dapat dimanfaatkan daging dan susunya. Kambing yang diternakkan dengan tujuan utama produksi daging dinamakan kambing pedaging; kambing yang diternakkan dengan tujuan utama produksi susu dinamakan kambing perah. Untuk meningkatkan produksi daging kambing, peternak biasanya memilih kambing yang unggul dalam menghasilkan daging. Begitu pula, untuk meningkatkan produksi susu kambing, peternak memilih kambing yang unggul dalam menghasilkan susu.

Berikut ini uraian singkat jenis-jenis kambing pedaging dan kambing perah.

Kambing Pedaging
1. Kambing Angora
Kambing Angora berasal dari daerah Angora di Anatolia, dekat Ankara, yang sekarang jadi ibu kota Turki. Kambing ini suka meramban dan mendapatkan sebagian besar pasokan makanannya dari daun-daun dan ranting pohon. Namun demikian, bila tersedia, kambing ini juga makan rumput. Kambing Angora sedikit lebih kecil daripada domba pedaging. Saat lahir, anak kambing Angora berbobot 2 sampai 4 kilogram; pada usia 6 bulan, 18 sampai 25 kilogram; dan pada usia 16 sampai 18 bulan, 28 sampai 33 kilogram. Kambing Angora betina dewasa berbobot 38 sampai 50 kilogram, dan kambing Angora jantan dewasa berbobot 43 sampai 63 kilogram. Kambing Angora sangat kurang prolifik dibandingkan dengan domba dan banyak kambing betinanya yang mandul. Masa kebuntingan kambing Angora sekitar 148 hari.

2. Kambing Achondroplastik
Kambing ini merupakan kambing kecil berkaki pendek. Pada usia dewasa, tinggi kambing ini 50 cm, dan beratnya sekitar 20 kg. Kambing Achondroplastik terdapat di kawasan hutan dan savana Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat cocok diternakkan di daerah tropis. Meskipun termasuk kambing kerdil, kambing ini menghasilkan daging dengan kualitas baik. Dengan pemeliharaan yang telaten, kambing ini dapat menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan kambing jenis ini dapat terjadi sepanjang tahun. Sayangnya, pertumbuhan tubuhnya lambat.

3. Kambing Barbari
Kambing Barbari juga termasuk dalam kategori kambing kecil. Kambing jenis ini banyak terdapat di daerah Sind, Pakistan. Kambing Barbari dewasa beratnya berkisar 20 sampai 30 kilogram. Kambing Barbari juga termasuk kambing prolifik, yaitu setiap kelahiran biasanya beranak kembar 2 sampai 3 ekor. Sifat prolifiknya ini membuat kambing ini diternakkan sebagai kambing pedaging.

4. Kambing Benggala Hitam
Kambing Benggala hitam adalah jenis kambing kerdil lainnya. Kambing ini banyak terdapat di Assam dan kawasan utara Bangladesh. Kambing jantan dewasa berbobot hanya 13 kg dan betina 9 kg.

5. Kambing Bligon
Kambing Bligon disebut juga kambing Gumbolo atau Jawa Randu. Kambing ini merupakan hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing Kacang. Kambing hasil persilangan ini lebih mirip kambing Kacang. Moncongnya lancip, telinganya tebal dan lebih panjang daripada kepalanya, lehernya tidak bersurai, tubuhnya terlihat tebal, dan bulu tubuhnya kasar.
Sebagaimana kambing Kacang, kambing Bligon sangat mudah pemeliharaannya karena jenis pakan apa pun dimakannya, termasuk rumput lapangan. Kambing ini cocok dipelihara sebagai kambing potong karena anak yang dilahirkan cepat besar.

6. Kambing Boer
Untuk uraian mengenai kambing Boer, silakan klik Gambaran Umum Kambing Boer



7. Kambing Boerawa
Sesuai dengan namanya, kambing Boerawa merupakan hasil perkawinan silang antara kambing jantan Boer dan kambing betina Etawa atau Peranakan Etawa. Usaha persilangan kedua jenis kambing ini sudah pernah dilakukan di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan melalui perkawinan alami. Namun demikian, usaha perkawinan silang alami di kedua provinsi ini kurang berhasil dibandingkan dengan usaha perkawinan silang melalui inseminasi buatan di Lampung. Karena perkembangannya yang pesat dan untuk mengangkat citra provinsi Lampung dalam merintis perkawinan silang kedua jenis kambing ini, nama kambing Boerawa kemudian diganti dengan Saburai.

Para peternak di Lampung sangat berminat untuk memelihara kambing Saburai karena beberapa keunggulannya. Selain sosoknya yang lebih besar, kambing ini juga memiliki tingkat produksi dan mutu daging yang lebih baik dibandingkan dengan kambing Etawa atau Peranakan Etawa. Kadar kolesterol kambing ini rendah dan dagingnya empuk dan enak. Tingkat pertumbuhannya juga lebih cepat, sementara pemeliharaan dan perawatannya tidak begitu berbeda dengan kambing lokal. Saat lahir berat rata-rata kambing Saburai 2,5 sampai 3,5 kg. Sedangkan kambing Kacang 1,6�2,0 kg dan PE 2,4�2,6 kg; berat sapih kambing Saburai 14�20 kg, kambing Kacang hanya 7�8 kg, dan PE 9�11 kg. Perbedaan ini semakin jelas terlihat pada usia 6-7 bulan. Berat kambing Saburai mencapai 30�35 kg, kambing Kacang 10�12 kg, dan PE 15�20 kg. Setelah 1 tahun, kambing Saburai bisa mencapai bobot 50�60 kg, kambing Kacang 24�27 kg, dan kambing PE 40-60 kg.

8. Kambing Kreolo
Kambing Kreolo adalah ternak pedaging yang banyak dipelihara di Amerika Latin dan Tengah. Kambing ini mampu hidup di daerah yang sangat gersang. Kambing ini berbulu tipis, pendek, berwarna hitam atau coklat, dan sering terdapat bercak putih. Tanduknya melengkung, dan telinganya pendek dan tegak. Kambing jantan berjanggut, sedangkan kambing betina tidak berjanggut. Tinggi gumba kambing Kreolo jantan 75 cm, dan kambing betina 65 cm. Bobot kambing dewasa berkisar 40 sampai 60 kg. Satu kelahiran menghasilkan anak 1 sampai 2 ekor.

9. Kambing Gaddi
Kambing Gaddi dapat diternakkan untuk mendapatkan daging atau susunya. Ini tergolong kambing berbulu panjang. Kambing ini disebut juga kambing Himachal Pradesh. Kambing ini banyak ditemukan di kawasan India Utara dan Pakistan.

10. Kambing Kacang
Kambing Kacang adalah kambing asli Indonesia. Kambing ini sangat sering melahirkan anak kembar. Dengan kata lain, kambing ini masuk klasifikasi kambing yang sangat prolifik. Satu kelahiran bisa menghasilkan 2 sampai 3 ekor anak. Kambing ini berkembang biak sepanjang tahun dan pemeliharaannya sangat sederhana. Kambing ini tahan derita, lincah, tersebar luas, dan mampu beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan.

11. Kambing Kashmir
Kambing Kashmir merupakan kambing yang hidup di daerah pegunungan Asia Tengah seperti Tibet, Mongolia Dalam, Kashmir, Iran, Turki, Kurdistan, Khirgiztan, dan Rusia. Kambing ini dapat hidup di daerah gersang dengan ketinggian 3.600 sampai 4.200 di atas permukaan laut. Kambing Kashmir jantan dewasa sekitar 60 kg dan kambing Kashmir betina 40 kg. Kambing ini merupakan keturunan langsung kambing liar Capra Falconeri. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing Kashmir. Karena bulunya yang lebat, selain menghasilkan daging, kambing ini juga menghasilkan bulu yang dapat diolah sebagai bahan pakaian.

12. Kambing Kerdil Cina Selatan
Kambing kerdil Cina Selatan merupakan kambing kerdil yang hidup di daerah tropis dan lembab. Kambing jantan dewasa berbobot sekitar 30 kg, dan bobot kambing betina dewasa hanya 25 kg. Meskipun ukuran badannya kecil, kambing ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.

13. Kambing Kecil Afrika Timur
Sesuai dengan namanya, kambing ini hdiup di daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak pedaging dan penghasil kulit. Penampilan fisik kambing ini mirip kambing Kacang, yang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini berbulu pendek dengan berbagai corak warna dan bertanduk kecil. Kambing dewasa beratnya sekitar 30 kg. Kambing ini juga sangat prolifik.

14. Kambing Maxoto
Kambing ini juga dinamakan kambing Nungfing. Kambing Maxoto banyak diternakkan di kawasan timur laut Brazil. Warna bulunya coklat muda atau coklat kelabu kuning dengan garis-garis hitam di punggung dan perut. Bulu muka dan kakinya berwarna hitam. Kambing Maxoto dewasa berbobot sekitar 32 kg. Induk kambing betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan anak kembar.

15. Kambing Sahel
Kambing Sahel paling cocok dipelihara di kawasan padang pasir yang gersang seperti Sudan dan Afrika Barat. Kambing ini tahan panas dan lingkungan yang sangat gersang seperti kawasan sabana di pinggiran gurun Sahara. Kambing Sahel berbulu pendek tapi halus. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit bermutu tinggi.

16. Kambing Salt Range
Kambing ini terdapat di kawasan barat laut Pakistan, Rawalpindi, dan Mianwali. Kambing ini dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan bulu yang panjang. Berat karkas kambing Salt Range berumur satu tahun mencapai 15-20 kg.

17. Kambing Sirli
Kambing ini banyak ditemukan di kawasan pegunungan barat laut Pakistan. Kambing Sirli dewasa sekitar 35 kg. Bulunya yang panjang bisa mencapai 25 cm.

18. Kambing Somalia
Hampir semua kambing Somalia berbulu putih halus. Kambing ini biasanya diternakkan sebagai penghasil daging dan kulit. Kulitnya tipis namun bermutu tinggi. Kisaran bobot kambing dewasa adalah 20 sampai 30 kg. Seperti ditunjukkan namanya, kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.

19. Kambing Spanyol
Kambing Spanyol atau kambing La Mancha berasal dari Spanyol. Ciri khas kambing ini adalah telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Kambing Spanyol jantan dewasa berkisar 55 sampai 80 kg dan kambing Spanyol betina 35 sampai 40 kg. Bulunya pendek dan warnanya beraneka ragam. Kambing ini sangat tangguh dan mampu beradaptasi di berbagai lingkungan yang buruk. Tujuan utama peternakan kambing Spanyol adalah produksi daging. Kambing ini dapat berkembang biak pada musim gugur sampai musim dingin sepanjang tahun. Dengan demikian, kambing Spanyol dapat beranak dan menghasilkan daging sepanjang tahun di daerah berhawa dingin.

Kambing Perah
1. Kambing Etawa
Kambing Etawa berasal dari daerah Jamnapari, India. Karena itu, kambing ini disebut juga kambing Jamnapari. Kambing Etawa paling terkenal di Asia Tenggara. Di negara asalnya, kambing ini tergolong kambing dwiguna - penghasil susu dan daging. Postur tubuhnya besar, telinganya panjang menggantung, mukanya cembung, dan bulu di paha belakang sangat lebat. Kambing Etawa jantan bisa mencapai bobot 90 kg, dan kambing betinanya hanya 60 kg. Produksi susu kambing Etawa sangat tinggi, yaitu 235 kg per masa laktasi (261 hari). Pada masa puncak laktasinya, produksi susu kambing ini mencapai 3,8 kg per hari.

Karena tingkat produksi susu dan tingkat pertumbuhannya yang tinggi, serta kemampuan adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, kambing ini sering digunakan untuk memperbaiki mutu kambing lokal di suatu negara. Usaha perbaikan mutu genetik kambing lokal di Indonesia menghasilkan kambing Peranakan Etawa (PE). Pusat produksi terbesar kambing PE adalah Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah.

Walaupun begitu, sejak beberapa tahun belakangan ini telah muncul pusat peternakan kambing PE baru seperti kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah dan Banyuwangi, Jawa Timur. Bogor, Sukabumi, Bandung, Lampung, dan Palembang juga mulai berkembang menjadi pusat peternakan baru kambing PE.

2. Kambing Alpen
Seperti tersirat dari namanya, kambing Alpen berasal dari pegunungan Alpen di Austria dan Perancis. Kebanyakan kambing yang tersebar di kawasan Eropa merupakan keturunan kambing Alpen. Kambing Alpen jantan dapat mencapai bobot 90 kg. Kambing Alpen betina dewasa berbobot sekitar 55 kg dan dapat menyusui anaknya dengan baik. Kambing ini dapat menghasilkan susu 4,5 kg per hari, terutama pada masa laktasi kedua dan ketiga. Kambing ini mampu menyesuaikan diri dengan baik di daerah tropis beriklim kering.

3. Kambing Saanen
Kambing Saanen berasal dari lembah Saanen, Swis bagian barat. Ini adalah jenis kambing paling besar di Swis. Karena peka terhadap sinar matahari, kambing ini tidak cocok diternakkan di daerah tropis. Telinga kambing ini tegak dan mengarah ke depan, bulunya umumnya putih dan kadang-kadang terdapat bercak-bercak hitam di bagian hidung, telinga, atau ambingnya.

Kambing ini juga termasuk kambing dwiguna - penghasil daging dan susu. Kambing ini diternakkan sebagai kambing pedaging karena yang jantan bertubuh besar. Kambing ini juga dipelihara sebagai kambing perah karena mampu menghasilkan susu 740 kg pada masa laktasi yang berlangsung selama 250 hari. Peranakan kambing ini dapat ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

4. Kambing Toggenburg
Kambing Toggenburg berasal dari lembah Toggenburg, timur laut Swis. Telinganya tegak dan menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua atau coklat dengan bercak putih di telinga atau bagian atas mata. Kambing jantannya dapat mencapai bobot 80 kg dan betinanya 60 kg. Kulit dan bulunya sangat halus, dan produksi susunya mencapai 600 kg selama 267 hari masa laktasi.

5. Kambing Anglo-Nubia
Kambing ini berasal dari daerah Nubia di timur laut Afrika. Kambing ini sekarang banyak diternakkan di Mesir, Afrika Selatan, dan Abesinia. Telinga kambing ini menggantung, ambing besar, dengan bulu berwarna hitam, merah, coklat, putih, atau kombinasi warna-warna tersebut. Kambing Anglo-Nubia jantan bisa mencapai bobot 90 kg dan kambing betinanya 70 kg. Produksi susunya 700 kg selama 237 masa laktasi.

6. Kambing Beetal
Kambing Beetal banyak dipelihara di daerah Punjab, Rawalpindi, dan Lahore. Kambing ini diduga sebagai hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing lokal karena ciri fisiknya sangat mirip dengan kambing Etawa. Produksi susunya 190 kg selama 180 hari masa laktasi.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa untuk kambing penghasil daging, kambing Boer dan kambing Boerawa atau Saburai menempati peringkat pertama dan kedua. Dari segi produksi susu, kambing Alpen dan kambing Etawa atau Peranakan Etawa menempati peringkat pertama dan kedua.

Di Indonesia, kambing Etawa dan Peranakan Etawa merupakan kambing andalan peternak untuk produksi susu. Kambing Alpen tidak populer mungkin karena kambing tersebut tidak mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia yang tropis. Harga kambing Etawa jantan dengan bobot minimal 45 kg berkisar Rp4 sampai Rp10 juta per ekor. Harga kambing Etawa betina berbobot minimal 30 kg berkisar Rp2,5 sampai Rp8 juta per ekor. Kalau mau yang lebih murah, peternak dapat membeli kambing Peranakan Etawa atau kambing Jawa Randu saja. Walaupun kambing PE dan JR sama-sama kambing hasil perkawinan silang antara kambing Etawa dan kambing Kacang, kambing PE lebih mirip kambing Etawa namun ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil, dan kambing JR lebih mirip kambing Kacang. Kambing PE/JR jantan berbobot minimal 35 kg dijual dengan harga Rp1,5 sampai Rp3 juta per ekor. Kambing PE/JR betina berbobot minimal 25 kg dijual dengan harga Rp900 ribu sampai Rp1,5 juta per ekor.

Kambing Boer dan kambing Boerawa atau kambing Saburai juga mulai menjadi favorit para peternak dalam produksi daging. Sayangnya, harga kambing Boer masih sangat mahal untuk ukuran peternak Indonesia. Harga kambing pedaging paling unggul ini berkisar Rp8 sampai Rp20 juta per ekor kambing Boer jantan berbobot minimal 50 kg. Harga per ekor kambing Boer betina dengan bobot minimal 35 kg berkisar Rp6 sampai Rp15 juta. Harga yang luar biasa mahal ini mungkin disebabkan kenyataan bahwa populasi kambing ini di Indonesia belum banyak dan para importir belum kembali modal atau belum mendapat keuntungan memadai dari uang yang telah mereka keluarkan untuk mengimpor langsung kambing Boer dari Australia.

Namun demikian, bagi rekan-rekan peternak, termasuk saya sendiri:), yang berminat memelihara kambing Boer namun belum punya modal memadai, kambing Boerawa bisa jadi alternatif karena harganya jauh lebih terjangkau. Harga kambing Boerawa jantan berbobot minimal 30 kg berkisar Rp2,5 sampai Rp6 juta per ekor. Harga kambing Boerawa betina berbobot minimal 25 kg berkisar Rp1,5 sampai Rp3 juta per ekor. Kalau kambing Boerawanya sudah berkembang biak dan banyak, hasil penjualannya bisa kita gunakan untuk membeli kambing Boer.

Saya sendiri sekarang baru mulai beternak dengan lokasi kandang di Sungai Bangek, pinggiran kota Padang, dan populasi kambing awal lima ekor - satu penjantan PE, dua betina PE, dan dua betina Jawa Randu. Sebenarnya, saya mau mulai dengan beternak kambing Boerawa. Sayangnya, jenis kambing Boerawa ini belum ada di peternakan tempat saya membeli kelima bibit kambing tersebut. Menurut informasi yang saya dapat, kambing Boerawa banyak diternakkan di Lampung, khususnya kabupaten Tanggamus. Rencananya, saya mau datang langsung ke peternakan kambing Boerawa di Tanggamus untuk menambah pengetahuan dan keterampilan langsung dari peternak di sana sebelum membeli kambing Boerawa.

Sumber:
Sarwono, B. 2007. Beternak Kambing Unggul. Depok: Penebar Swadaya.

Sodiq, Ahmad & Zainal Abidin. 2008. Meningkatkan Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa. Tangerang: AgroMedia Pustaka.

Berbagai sumber online.

Gambaran Umum Kambing Boer

4 komentar
Kambing Boer adalah salah satu kambing unggul dan pertama kali dibudidayakan di Afrika Selatan pada tahun 1900-an untuk produksi daging. Nama kambing ini sendiri, Boer, adalah bahasa Belanda yang berarti petani. Kambing Boer umumnya bertubuh putih dan kepala warna coklat. Kambing ini bertubuh lebar, panjang, berkaki pendek, berhidung cembung, dan bertelinga panjang menggantung. Kambing unggul ini terkenal jinak, pertumbuhannya cepat, dan tingkat kesuburannya tinggi. Kambing Boer jantan dewasa berumur 2-3 tahun dapat mencapai bobot antara 110-135 kg, dan kambing Boer betina dewasa antara 90-100 kg. Pertambahan berat tubuh rata-rata 0,02-0,04 kg per hari. Persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40%-50% dari berat tubuhnya.

Kambing Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat. Pundaknya luas dan bagian belakangnya dipenuhi dengan otot yang padat. Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25 derajat C) hingga sangat panas (43 derajat C) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Kambing ini juga tahan terhadap penyakit dan dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah kambing ini adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, rumput berdaun lebar, dan tanaman semak daripada rumput biasa.

Kambing Boer jantan senang sekali kalau digaruk dan digosok di bagian belakang telinga, punggung dan sisi perutnya. Kambing jenis ini mudah ditangani dengan memegang tanduknya dan juga dapat dilatih dituntun dengan tali. Namun demikian, sebaiknya jangan mendorong bagian depan kepalanya karena mereka akan menjadi agresif.

Kambing Boer jantan tidak mengenal musim kawin. Dengan kata lain, kambing ini bisa kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Baunya yang tajam sangat memikat kambing betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8-10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2-3 tahun) dapat melayani 30 hingga 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Semangat kawin kambing ini berkisar 7-8 tahun.

Kambing Boer betina tumbuh seperti Boer jantan tapi sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Kambing Boer betina juga sangat jinak. Kambing betina dapat dikawinkan pada umur 10-12 bulan. Masa kebuntingan kambing ini 5 bulan dan mampu melahirkan anak tiga kali dalam dua tahun. Betina berumur satu tahun dapat menghasilkan 1-2 anak. Setelah beranak pertama, kambing Boer betina biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Kambing Boer betina mempunyai dua hingga empat puting tapi kadang-kadang tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang tidak mengenal musim kawin, kambing ini dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5-8 tahun. Baik kambing Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.

Blog Archive

About